Breaking News
Home / info / Berbagai ‘Miss’ Kontes Kecantikan Dunia, Apa Sih Bedanya?

Berbagai ‘Miss’ Kontes Kecantikan Dunia, Apa Sih Bedanya?

Baruu saja kita menerima kabar gembira karena Putri Indonesia Lingkungan Hidup 2017 Kevin Lilliana dinobatkan menjadi Miss International 2017. Kevin mengalahkan 65 wanita yang menjadi perwakilan dari sejumlah negara dalam ajang yang malam finalnya diselenggarakan di Tokyo Dome City Hall, Tokyo, Jepang.

Berada di urutan kedua adalah Diana Macarena dari Venezuela dan Chanelle Wilhelmina dari Curacao. Di babak final, ada empat kontestan yang bersaing meraih gelar juara, yakni Venezuela, Australia, Jepang, dan Curacao. Kevin menggantikan Miss International 2016 Kelly Ferzosa yang berasal dari Filipina. Di balik berita tersebut, ternyata masih banyak orang bertanya-tanya soal berbagai kontes kecantikan yang ada di dunia. Apa bedanya Miss International dengan Miss World, Miss Universe, atau Miss Grand International? Sejatinya, ada berbagai ajang ratu kecantikan internasional. Tiga yang terbesar adalah Miss Universe, Miss World, dan Miss International. sebelum kita melihat bedanya ajang kecantikan dunia, mari kita lihat dulu sejarah mengenai ajang atau kontes kecantikan ini.

Sejarah Kontes Kecantikan

Kontes kecantikan modern pertama kali digelar di Amerika pada tahun 1854. Namun, kontes ini ternyata diprotes masyarakat Amerika hingga akhirnya kontes tidak berlanjut. Dan uniknya panitia kontes kecantikan pertama di dunia tersebut sebelumnya sukses menggelar kontes kecantikan anjing, bayi, dan burung. Lalu sukses kontes kecantikan hewan tersebut tersebut diuji-coba untuk manusia.

Pagelaran kontes kecantikan di dunia tidak serta-merta mati. Pada sekitar tahun 1951 di Inggris, Eric Morley menggelar kontes kecantikan internasional untuk pertama kali. Kontes ini berawal dari festival lomba yang bernama Festival Bikini Contest, kemudian berganti nama menjadi Miss World. Jadi, Miss World adalah kontes kecantikan termasyhur yang tertua di dunia.

Namun beberapa tahun kemudian Eric Morley meninggal sehingga pagelaran tersebut diteruskan istrinya hingga muncul konsep 3B yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (Kepribadian).

Konsep 3B ini sebenarnya hanya untuk memoles kontes kecantikan agar diterima banyak kalangan, karena saat itu masih banyak pihak menolak kontes tersebut, bahkan hingga sekarang. Penyebabnya tentu saja karena kontes kecantikan dinilai hanya mengekploitasi perempuan. Hingga saat inipun kontes kecantikan masih ditolak para aktivis perempuan di beberapa negara.

Setelah Inggris cukup sukses menggelar kontes kecantikan lalu sukses tersebut merambat ke Amerika meski sebelumnya publik sempat melakukan protes. Pada tahun 1952 sebuah perusahaan pakaian dalam di Amerika mencoba untuk mencari cara mempromosikan produknya dengan menggelar Miss Universe.

Tentu para peserta wajib berbusana bikini agar menarik minat pembeli pakaian dalam tersebut. Pada tahun 1996 Donald Trump membeli hak kontes tersebut untuk ditayangkan di sebuah televisi. Sementara Indonesia baru ikut-ikutan kontes kecantikan kelas dunia pada tahun 1982 dengan mengirimkan wakilnya, yakni Andi Botenri, secara diam-diam karena di dalam negeri kontes kecantikan semacam itu masih banyak pihak yang menolak.

Tahun berikutnya, 1983, Titi DJ dikirim diam-diam untuk mewakili Indonesia dalam kontes Miss World di London Inggris. Pengiriman diam-diam tersebut dilakukan karena sebelumnya Dr. Daoed Joesoef, saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1977-1982, menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan kontes kecantikan.

Daoed Joesoef menilai kontes kecantikan hakikatnya adalah sebuah penipuan dan pelecehan terhadap perempuan. Kontes kecantikan hanya untuk meraup keuntungan bisnis perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, atau salon kecantikan, yang bertujuan mengeksploitasi kecantikan perempuan sebagai primitive instinct dan nafsu dasar laki-laki, serta kebutuhan akan uang untuk hidup mewah. Ia menolak habis-habisan kontes kecantikan, meski dirinya lulusan luar negeri yang berpandangan liberal.

Walaupun ada penolakan di dalam negeri, kontes kecantikan tetap digelar untuk pertama kali pada hari ulang tahun Jakarta ke 441 pada 22 Juni 1968 dengan peserta hanya 36 orang dan yang terpilih sebagai None Jakarta yaitu Riziani Malik. Indonesia baru memiliki kontes kecantikan secara nasional pada tahun 1992 yang digelar oleh Yayasan Puteri Indonsia dengan sponsor pabrikan kosmetik. Seperti dikatakan Menteri Daoed Joesoef, kontes kecantikan selalu berbanding lurus dengan bisnis.

Pada tahun 1992, kontes kecantikan nasional bertitel Puteri Indonesia diizinkan pemerintah karena masih dianggap sopan. Namun sejak tahun 1997 kontes Puteri Indonesia dilarang Presiden Soeharto karena ajang pamer aurat itu disalahgunakan penyelenggara. Ini terjadi karena setahun sebelumnya, penyelenggara secara diam-diam menjadikan kontes tingkat nasional tersebut sebagai ‘batu loncatan’ untuk mengirim pemenangnya, yaitu Alya Rohali untuk mengikuti kontes Miss Universe 1996.

Suasana berubah justru ketika tahun 2000, di masa pemerintahan Gus Dur, kontes Puteri Indonesia kembali diizinkan, namun pemenangnya tidak dikirim ke kontes Miss Universe maupun Miss World. Kebijakan ini tetap dipertahankan sewaktu Megawati memimpin negara ini. Dan berikut ini adalah perbedaan antara ajang atau kontes kecantikan di dunia.

Miss World

Diprakarsai oleh Eric Morley di tahun 1951, seiring berjalannya waktu, Miss World menjadi salah satu kontes kecantikan terbesar dan tentu saja paling dikenal oleh masyarakat umum.

Kontes kecantikan yang diadakan pertama kali di Inggris ini awalnya merupakan festival kontes bikini yang bertujuan untuk menghormati pakaian renang yang baru pertama kali diperkenalkan saat itu, namun di kemudian hari Morley memutuskan untuk membuat kontes ini menjadi acara tahunan. Hingga akhirnya di tahun 1980, kontes ini memiliki slogan Beauty with a Purpose serta ditambah dengan tes intelegensi dan kepribadian. Dimana slogan ini juga memiliki tujuan untuk meningkatkan pundi-pundi untuk amal di seluruh dunia yang merupakan tujuan awal kontes ini melalui organisasi amal Miss World.

Ajang kontes kecantikan tentu saja tidak lepas dari mahkota yang disematkan untuk sang juara. Bagi Miss World sendiri, ajang ini telah menggunakan sebelas mahkota. Tercatat Susana Duijm dari Venezuela merupakan Miss World pertama yang mendapatkan mahkotanya di tahun 1955. Ditiap tahunnya mahkota Miss World yang baru pun diperkenalkan ke publik. Tercatat, mahkota di tahun 1979-lah yang menjadi mahkota paling ikonik yang diberinama mahkota biru karena warna dan fitur batu pirus pada mahkota tersebut. Mahkota ini identik dengan slogan kontes ‘Beauty with a Purpose’.

Selain gelas Miss World, penghargaan lain yang diberikan antara lain Best National Costume, Miss Personality, Miss Photogenic, dan Miss World Talent. Pemegang gelar Miss World saat ini adalah Stephanie Del Valle yang berasal dari Puerto Riko.

Miss Universe

Miss Universe berawal dari acara Pacific Mills yang mempromosikan produk pakaian renang Catalina pada 1952 dan dijuarai oleh Armi Kuusela dari Finlandia. Namun di tahun 1996, Donald Trump membeli Miss Universe, Inc yang kemudian diubah namanya menjadi Miss Universe Organization. Setelah 20 tahun, Donald Trump menjual seluruh perusahaan kepada WME/IMG.

Tentu berbeda dengan Miss World, Confidently Beautiful (Cantik Dengan Penuh Percaya Diri) merupakan slogan dari Miss Universe yang berharap perempuan dunia bisa mengembangkan kepercayaan diri mereka untuk bisa menunjukkan kepribadian terbaiknya. Kepercayaan diri perempuan bisa mengubah menjadi sesuatu yang nyata, mulai dari komunitasnya hingga ke publik secara global. Kontes ini pun juga mengharapkan perempuan dunia mendapatkan zona nyamannya, menjadi diri sendiri dan mendapatkan arti cantik dengan penuh percaya diri.

Miss Universe telah menggunakan sembilan mahkota sejak tahun 1952. Dimana untuk mahkota yang terakhir ini terinspirasi dari gedung pencakar langit di New York, Amerika Serikat. Meski berbeda, namun setiap tahunnya ada penghargaan khusus yang diberikan untuk para kontestan, diantaranya Miss Congeniality, Best National Costume, dan Miss Photohenic. Indonesia sendiri telah mengirimkan 21 wakilnya di ajang ini sejak tahun 1974.

Miss International

Meski selalu disebut sebagai Festival Kecantikan dan Olimpiade Kecantikan, ajang ini tidak hanya didasarkan pada penampilan. Miss International yang merupakan terbesar ketiga setelah Miss World dan Miss Universe ini diharapkan mampu bertindak sebagai Duta Besar Perdamaian dan Kecantikan, menunjukkan kelembutan, intelijensi, kecantikan, persahabatan, kemampuan bertindak dan memiliki sensibilitas internasional yang besar.

Awalnya kontes yang berpusat di Tokyo, Jepang ini diselenggarakan di Long Beach, California pada tahun 1960. Namun, berpindah ke Jepang di tahun 1968-1970. Setelah itu berpindah-pindah ke Beijing, China, hingga akhirnya kembali lagi ke Jepang sejak tahun 2012.

Miss International memiliki badan amal yang berdonasi untuk anak-anak kurang mampu di seluruh dunia melalui Unicef dan badan amal lainnya. Selain itu, aktivitas Green Campaign yang setiap tahunnya menanam pohon untuk menjaga alam.

Sejak tahun 70an hingga 90an, Miss International menggunakan mahkota yang sama dengan warna dominan merah, putih, dan emas. Kemudian mereka mengubah desain mahkota di tahun 2000 hingga akhirnya kembali dengan desain yang sama di tahun 2015 hingga saat ini yang dikenakan oleh Kevin Lillana yang menyandang gelar sebagai Miss International 2017.

Miss Earth

Kontes ini sedikit cukup berbeda dengan kontes kecantikan yang lain, dimana kontes ini lebih menitikberatkan untuk mempromosikan kepedulian dan kepekaan terhadap masalah lingkungan. Meski begitu, kontes yang dibentuk tahun 2001 ini menjadi salah satu kontes kecantikan internasional dengan slogan Beauties for a Cause.

Bagi sang juara kontes yang berpusat di Filipina ini, harus menghabiskan satu tahun masa jabatannya untuk mempromosikan proyek spesifik dan membahas isu-isu tentang lingkungan serta isu-isu global lainnya.

Mahkota Miss Earth yang terbaru dipamerkan ke publik di tahun 2009. Berdesain batu permata serta terbuat dari 100% daur ulang emas 14K dan perak. Pada bagian tengahnya terdapat bunga sebagai simbol kebahagiaan dan berkembangnya bumi.

Miss Supranational

Sudah 8 tahun semenjak Miss Supranational pertama kali digelar. Kontes kecantikan ini diprakarsai oleh World Beauty Association dan berkantor pusat di Panama. Memiliki slogan Glamour, Fashion dan Natural Beauty, kontes Miss Supranational lebih memfokuskan kepada kecantikan yang natural serta keanggunan.

Mahkota yang disematkan untuk kontes kecantikan yang diikuti oleh 80 kompetitor ini memiliki warna dominan perak dengan batu berlian berwarna biru.

Miss Grand International

Selain Miss International, ada juga Miss Grand International nih. Kalau kontes kecantikan yang satu ini berpusat di Bangkok, Thailand. Kontes kecantikan ini masih dibilang kontes termuda dibandingan yang kontes kecantikan lain, yaitu pertama kali diselenggarakan pada tahun 2013 serta memiliki tujuan untuk ikut serta menciptakan perdamaian dan menghentikan peperangan, tentu saja dengan slogannya Stop The War and Violence.

Gelar Miss Grand International saat ini dipegang oleh Ariska Putri Pertiwi dari Indonesia yang menjadikan ia sebagai wanita Asia pertama yang mendapat gelar tersebut.

Mahkota yang digunakan juga berubah sebanyak dua kali semenjak diselenggarakan, yaitu tahun 2013 hingga 2015, kemudian mahkota yang digunakan saat ini mulai dipamerkan ke publik tahun 2016. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang giat berpartisipasi di kontes kecantikan. Sejak tahun 1960, putri-putri terbaik Indonesia dikirim untuk mengikuti Miss Asia Quest, Miss Charming International, Miss International, Miss World, ataupun Miss Universe.

Anda harus tahu juga nih, untuk kontestan yang dikirim ke masing-masing kontes kecantikan tersebut ternyata juga dari kontes yang berbeda lho. Untuk ajang Miss Universe adalah pemenang dari Putri Indonesia. Apakah kontestan yang dikirim ke ajang Miss World berbeda? Jawabannya, yap! Pemenang Miss Indonesia-lah yang akan dikirim ke ajang tersebut. Sedangkan Miss Indonesia Earth akan dikirim untuk mengikuti ajang Miss Earth Dunia.

Sama halnya dengan Miss Universe, Puteri Indonesia akan mewakili Indonesia di ajang Miss Supranational. Namun, runner up 2 yang akan maju sebagai perwakilan Indonesia. Sedangkan runner up 3 Puteri Indonesia akan mewakili Miss Grand International.

So, sudah tahu kan bedanya ajang kecantikan dunia ini. Tentu yang paling penting, mereka memiliki visi dan misi yang berbeda. Ada yang punya cita-cita untuk ikut di ajang kecantikan dunia?

Check Also

Ngeri,Kejadian Tak Terduga Yang Terjadi Di Toilet

Cerita yang akan mimin berikan kali ini mungkin akan terlihat seperti legenda, tetapi kisah tentang …