Breaking News
Home / My Blog / Apakah Naga Benar-Benar Ada? Simak Fakta dan Penemuan

Apakah Naga Benar-Benar Ada? Simak Fakta dan Penemuan

Di dunia nyata, kisah-kisah mengenai hewan mitologi memang cukup menarik untuk dibahas. Belum lagi dengan banyaknya versi cerita yang berbeda-beda di tiap daerah. Lumrah jika banyak sekali kalangan masyarakat yang penasaran mendengarkan ceritanya. Terkadang, banyak pula masyarakat yang “mengaku” pernah melihat penampakan dari hewan-hewan mitologi yang ada. Bahkan di antaranya berhasil mengabadikan foto penampakan tersebut melalui kameranya.

Termasuk pula dengan naga. Hewan mitologi yang memiliki berbagai macam versi cerita ini sering disebut-sebut sebagai hewan nyata yang benar-benar ada. Mereka mengatakan bahwa mereka pernah melihat penampakan naga. Naga digambarkan sebagai hewan dengan bentuk menyerupai kadal, memiliki sayap, dan terkadang memiliki kemampuan menyemburkan nafas api dari mulutnya. Namun di beberapa budaya lain, naga dianggap menyerupai ular berkaki yang memiliki sayap.

Naga merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan bangsa China. Hal ini dapat dilihat dari budaya China yang hampir semuanya berhubungan dengan hewan legenda ini. Sebaliknya, para peneliti telah lama meyakini bahwa naga hanyalah merupakan mahkluk khayalan semata yang hanya hadir dalam legenda-legenda klasik.

Namun sebuah penemuan pada tahun 1996 seolah menjawab keragu-raguan para ahli. Para arkeolog di China berhasil menemukan fosil naga ini di Desa Guanling, Kota Anshun, China. Penemuan ini membuktikan bahwa hewan yang dikeramatkan ini a pernah ada.

Dalam bingkai ilmu pengetahuan, naga merupakan reptil yang hidup di samudra pada masa Triasik sekitar 200 juta tahun yang lalu. Naga merupakan makhluk amfibi, ia banyak menghabiskan waktunya di air dan terkadang berjalan ke daratan. Naga merupakan legenda yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyarakat China. Hewan dari masa lalu ini, sering hadir dalam kisah-kisah masa lalu China dan dianggap sebagai makhluk yang istimewa. Orang Mandarin juga meyakini bahwa mereka adalah titisan dari naga.

Hal inilah yang membuat penemuan pada tahun 1996 ini di sambut baik masyarakat. Fosil naga yang ditemukan di Desa Guanling itu dilengkapi dengan sepasang tanduk di atas kepalanya. Wujud dari naga ini menyerupai hewan legenda yang sering terdapat dalam legenda. Fosil ini dalam kondisi baik dengan Panjangnya keseluruhan mencapai 7,6 m, kepalanya 76 cm dan lehernya 54 cm. Tubuhnya memiliki panjang 2,7 m serta lebar 68 cm, dan buntutnya 3,7 m.

Kepala naga ini berbentuk segitiga, dengan lebar mulut 43 cm. Bagian terlebar di kepala naga ini mencapai 32 cm, kedua tanduknya, dengan bentuknya yang simetris menjulang dari bagian terlebar tersebut dan berukuran 27 cm. Tanduknya berbentuk agak sedikit melengkung serta condong ke samping, sehingga semakin membuat fosil tersebut menjadi seperti naga dalam legenda. Fosil itu pada akhirnya dipamerkan pada tahun 2007 di Xinwei Ancient Life Fossils Museum di Anshun, Guizhou, China.

Tak pelak lagi, penemuan ini benar-benar mengegerkan masyarakat. Karena ini adalah pertama kalinya bagi China untuk menemukan sebuah fosil “naga” yang dilengkapi sepasang tanduk. Penemuan ini menyajikan bukti tentang kemungkinan naga memiliki tanduk. Penemuan fosil ini memberi informasi ilmiah yang penting bagi manusia untuk melacak asal-usul legenda naga di China.

Penemuan Naga di Yunnan dan Sungai Liachoe

Penemuan lainnya terjadi di Provinsi di dekat sebuah desa di Fuyuan, China baratdaya pada tanggal 22 Januari 2007. Penduduk setempat menemukan fosil naga berukuran kecil yang telah melekat pada lempengan batu di dalam sebuah gua di atas sebuah bukit. Para petani di desa itu telah melakukan penggalian fosil sejak tahun 2000 untuk mencari “sisa-sisa” dari legenda naga karena terinspirasi oleh penemuan naga yang dipamerkan di Guizhou. Para petani melakukan itu untuk menambah penghasilan dengan menjual fosil tersebut kepada para peneliti.

Sebelumnya, untuk membuktikan keberadaan naga itu, para arkeolog China melakukan ekskavasi sejak tahun 1983 di beberapa lokasi yang diyakini pernah ditinggali oleh peradaban China kuno. Ekskavasi pertama dilakukan di sekitar Desa Niuheliang, di kaki Gunung Merah (Red Mountain). Tepatnya, berada di lokasi lembah Sungai Liachoe. Dari beberapa temuan membuktikan, bahwa di daerah ini pernah ditinggali sebuah peradaban kuno yang cukup maju ribuan tahun silam.

Pada penggalian pertama, para arkeolog menemukan dua potongan batu giok berbentuk seekor naga. Giok naga ini diukir secara halus, berwarna hijau transparan. Penemuan pertama ini, menurut para arkeolog sangat berharga. Dari bukti itu terlihat peradaban ribuan tahun silam memang sudah mengenal budaya ukiran yang sangat halus dan tak kalah indah dengan hasil pahatan zaman sekarang

Penggalian hingga tahun 2003 itu melibatkan puluhan arkeolog dari Research Institute of Lioning Province, dan telah menyelesaikan pekerjaan pada 16 situs. Mereka mengaduk-aduk situs pada areal 1.576 meter persegi. Menggali enam kuburan kuno yang diduga adalah kuburan para pimpinan masa itu.

Dari hasil penggalian itu, ditemukan 479 potong bukti-bukti yang mengarah tentang keberadaan ular naga, dalam bentuk fosil rahang dan bagian tubuh lainnya yang diduga merupakan bagian tubuh dari seekor ular besar. Termasuk tiga potong patung naga yang terbuat dari batu giok halus, yang ditemukan dari kuburan kuno. Konon temuan giok patung naga itu, hampir sama dengan temuan hasil ekskavasi di Desa Sanxingtala pada tahun 1970. Desa ini masuk dalam wilayah Kota Cipeng di Monggolia Dalam.

Profesor So Bingqi, seorang arkeolog terkenal di China dan merupakan Ketua Asosiasi Arkeolog Cina mengungkapkan, temuan terbaru itu masih harus diteliti lebih jauh. Terutama dengan uji karbon, untuk menentukan umur binatang purba itu dan merekonstruksi seluruh bentuk fisiknya.

Nenek Moyang Ular

Penelitian di sekitar lembah Sungai Liachoe terus dilanjutkan para arkeolog, untuk menentukan apakah temuan ini hanya satu-satunya bukti atau masih ada yang lain. Ternyata dugaan dari para arkeolog itu tidak sia-sia, penggalian di “Red Mountain Goddes”, ternyata ditemukan bukti lainnya yang saling mendukung. Temuan serupa di lokasi ini, menemukan beberapa bukti lain yang menguatkan keberadaan naga itu.

Baik arkeolog Bingqi maupun Daahun, anggota Tim Kerja pencari bukti keberadaannaga itu menyimpulkan, ular yang selama ini dimitoskan itu memang ada. Hanya apakah bentuknya memang sempurna, seperti nagayang digambarkan dalam bentuk patung seperti di biara atau hanya ular purba biasa? Semua itu masih dalam tanda tanya. Para arkeolog masih mencari bukti-bukti lain, dan merekonstruksinya secara sempurna.

Untuk sementara, mereka berhasil merekonstruksi temuan fosil itu adalah sejenis binatang ular purba. Hal ini terlihat jelas, dari kerangka kepala yang mengarah pada sebuah kerangka ular. Namun masih belum sempurna, karena beberapa bagian lain yang diduga berupa tulang rawan bentuknya masih samar-samar. Tapi semua arkeolog meyakini, fosil itu adalah fosil naga, nenek moyang ular-ular sekarang.

Mengenai keraguan bentuk naga sebenarnya, untuk sementara mereka sepakat gambaran patung-patung naga yang dibuat sejak ribuan tahun lalu, diduga kuat itu mewakili bentuk ular naga sebenarnya meski bukti-bukti pendukungnya masih dideteksi.

Kemampuan terbang

Tetap saja bukan masalah gampang untuk memahami bagaimana mahluk besar ini bisa terbang. Untungnya, bagi naga, ada kelompok reptil lain yang memberi harapan bagi ambisi mereka untuk terbang. Mendapat namanya dari kisah rakyat Uzbekistan, raksasa azhdarchidae dari keluarga pterosaurus ini mungkin merupakan hewan terbesar yang bisa terbang, dan mereka yang sepertinya menjadi sumber dari naga.

Sebuah gambar dari Mark Witton -seorang seniman palaeoart atau seni yang merekonstruksi kehidupan prasejarah yang juga peneliti pterosaurus- dari Universitas Portsmouth di Inggris bisa menjelaskannya. Gambar itu memperlihatkan spesies azhdarchilds yang memiliki jangkauan sayap sepanjang sekitar 11 meter. Hewan raksasa ini bisa terbang namun membutuhkan beberapa penyesuaian khusus, antara lain rangka yang hampa untuk meminimalkan beratnya dan lengan depan yang kuat untuk menampung otot terbang yang besar.

Naga hipotetis kita juga memerlukan penyesuaian yang sama dan juga harus melakukan beberapa pengorbanan anatomis. “Ketika burung terbang, mereka mendapat 90% dari kekuatan peluncurnya di kaki belakang yang dialihkan ke sayap-sayap mereka,” kata Witton. Artinya, mereka membutuhkan badan yang lebh besar karena perlu dua otot untuk terbang ke udara.” Namun pterosaurus mengandalkan kekuatan tulang depan atau sayap untuk meluncur ke udara. “Mereka tidak perlu khawatir untuk mengangkat semua otot kaki ke udara setelah lepas landas.

Jadi tentu badan mereka bisa saja semakin membesar.”Dengan kata lain, pterosaurus terbesar bisa menjadi sebesar itu dengan hanya memiliki torso dan kaki yang relatif kecil. “Burung bisa sampai seberat 80 kg dan itu adalah yang terberat yang masih bisa terbang sementara berat pterosaurus terbang bisa sampai lebih empat kali lipat,” jelas Witton. Maka naga juga harus memberikan pengorbanan yang sama untuk bisa terbang, dengan tidak terlalu tebal dan menjadi lamban. Jadi mari kita bayangkan naga merupakan pengembangan dari azhdarchid pterosaurus raksasa atau dari kelompok reptil terbang yang menjalani evolusi sejajar. Tapi bagaimana dengan ciri-ciri ajaib mereka yang lainnya?

Sumber kecerdasan

Dalam mitos-mitos, naga seringkali amat cerdas, yang terwujud dengan kejahatan dan kelicikannya yang digunakan untuk mengecoh para pembunuh naga. Atau dalam mitos naga di dunia Timur, kecerdasan itu terwujud dengan kearifan yang hanya dimiliki oleh manusia. Yang manapun dari keduanya itu, maka terlihat naga memiliki kemampuan berpikir yang biasanya tidak dihubungkan dengan reptil.

Para ilmuwan biasanya menggunakan istilah ‘reptilian’ untuk menggambarkan bagian dari otak manusia yang berkaitan dengan fungsi dasar seperti bernafas. Hewan reptil memang sering digambarkan seperti itu: tergerak oleh naluri dan bukan akal. Namun dalam beberapa tahun belakangan, ilmuwan mulai mengeksplorasi kecerdasan reptil dengan merancang beberapa tugas khusus untuk menguji batasan kecerdasan reptil.

Bangsa dan Negara yang Memiliki Kisah Naga :

  • China : disebut Long, berbentuk ular dengan empat kaki yang berkuku
  • Vietnam : disebut Rong
  • Jepang : disebut Ryu, memiliki tiga kuku tajam
  • Korea : disebut Yong ( naga langit) , Yo (naga laut) dan Kyo (naga gunung)
  • Siberian : disebut Yilbegan – India : dikenali Vyalee dan banyak diukir di kuil Selatan India.
  • Germanic/Scandinavian : disebut Lindworm, berbentuk ular besar yang berkaki dua.
  • Wales : disebutY Ddraig Goch, naga merah yang tertera pada bendera negeri itu.
  • Hungarian : disebut Zomok, berbentuk ular yang tinggal dalam paya dan seringmemangsa khinzir atau biri-biri. Sárkánykígyó, berbentuk ular berkepak. Sárkány, naga berbentuk manusia yang memiliki banyak kepala.
  • Slavic : disebut Zmey, Zmiy dan Zmaj , menyerupai naga Eropa tetapi memiliki banyak kepala, dapat menyemburkan api.
  • Romanian : disebut Balaur, memiliki sirip, berukuran besar dan berkepala banyak. Chuvash: disebut Vere Celen, Amerika- Meso-amerika: disebutAmphitere,Inca: disebut Amaru, Brasil: dikenali sebagai Boi-tata.

Masih banyak lagi hal yang menuju pembuktian bahwa keberadaan Naga itu benar adanya namun tak satupun dari semua hal tersebut memberikan kepuasan dalam menjawab Legenda naga ini. Mungkin Naga akan tetap menjadi misteri sampai ujung jaman. Bagaimana dengan anda sahabat anehdidunia.com apakah anda menyetujuinya?

Check Also

Pencipta PR Pertama Di Dunia

Kalau kamu anak sekolah pasti kamu sudah nggak asing lagi dong dengan Pekerjaan Rumah alias …